Lirikan Tajam dari Patung Selamat Datang

KULIAH PEDIAOleh : Ahmad Nur Fauzi

Manis nian sambutan dari tatap mu..
Bibir melengkung tandai rasa damai mu..
Tuk beri hangatnya ucapan..
Kepada pengadu harapan..
Di kota idaman semua insan..

Tak ada sanggah darinya..
Karna inilah raga dirinya..
Dimana fajar tiba, duyun duyun..
Mengayuh.. Bahkan tancap sogun..
Untuk mengais rupiah yang tertimbun..

Tajam nian memang dibalik tatap mawarnya..
Rintik matanya kadang jatuh di dravidiannya..
Sampai sesak dan tak ada sirat-sirat di sisinya..
Seolah jenuh akan paradigma yang sulit..
Yang tepampang pada figura dibalik pencakar langit..

Petaka selalu terlukis..
Dari para anarkis.. Bahkan dari kaum bengis..
Iringi dahiat yang pekat..
Bagai lembak saat hujan lebat..
Dan bagai gersang saat tiba bahang..

Tak hanya kukuh disini..
Pengais rupiah bercakar tuk dapat rizki..
Bahkan sampai ruh tertumpas..
Gambarkan tarung rivalitas yang buas..
Dan sulit teretas karena suatu identitas..
Ibaratkan, ” yang lemas akan tertindas..
Dan yang perkasa makin berkuasa.. “

Tandasnya dalam hampa, “apakah daku sebagai patung selamat datang akan lambaikan sampai jumpa?.. “

” hohoho.. Tidak akan.. Diriku disini masih tegar dan berkobar.. Tak ada niat pun tuk terjun dari sangkar!!”, balas patung pancoran dalam kobar juangnya..

Namun dalam diam..
Tatap dan ucap tajam makin meredam..
Dan ambisi optimis makin terpatri..
Karena yakin.. Baskara kan sinari..
Kabut yang hitam kan berseri..
Sebagai ungkapan asa..

Pada cita yang berbalut cinta..
Di mata rupawan sang ibu kota..

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *